Anak Sekolah Ibu yang Belajar

Bandarlampung .Beritaohoto.id
Pandemi Covid-19 Virus Corona memang luar biasa, karena selain mematikan jutaan orang, dia juga membuat orang tua baik Lbu maupun Ayah harus belajar lagi ke Sekolah Dasar (SD) meski sesungguhnya bukan mereka yang sekolah.

Saat ini volume anak belajar atau sekola dari rumah atau lebih ngetrennya disebut Daring (dalam jaringan). Setidaknya katagori anak dibagi menjadi tiga kelompok untuk anak SD kelas 1-5, kelompok 1 adalah yang mau belajar dan mengerjakan tugas guru sendiri sebesar 15 persen, lalu belajar dengan diawasi sebanyak 25 persen, dikerjakan lalu diajakan dan diawasi dengan ketat (pake pusing) 36 persen, lalu males dan tidak mau mengerjakan tugas sebesar 24 persen.

35 persen siswa sekolah dasar, terutamanya kelas I sd V. Mereka banyak bermain (karena merasa libur sekolah) dan lupa akan tugasnya sebagai siswa atau tugas sekolah, akhirnya mau tidak mau orang tua terutama Ibu yang turun tangan (belajar) baik mengerjakan tugas maupun mengisi ulangan harian yang dikirim Ibu/Bapak guru melalui grup WhatsAap.

Seperti yang dirasakan oleh Ibu Muda Linda Ningsih asal Kelurahan Sawah Brebes, Kecamatan Tanjungkarang Timur Kota Bandarlampung Provinsi Lampung. Tiap hari Senin – Sabtu dia akan marah-marah dan ngoceh kepada anaknya yang sekolah di salah satu MIN di Kota tersebut, karena males sekali mengerjakan tugas dari gurunya dengan alasan capek, banyak banget tugasnya dan banyak alasan lagi.

Linda menjelaskan, sejak Sekolah dari Rumah atau Daring berlangsung pada tahun 2020 lalu hingga saat ini. Dirinya sangat kewalahan karena anakanya masuk dalam katagori 36 persen, diajarkan dan diawasi pake pusing…!!. Meski demikian dirinya tetap ingin memberikan lelajaran terbaik bagi anaknya, meski harus kembali belajar seperti masa-masa Sekolah dulu.

Yang menjadi masalah adalah bukan sekolah dari rumahnya. Tetapi kami para orang tua harus ikut belajar lagi. Sebab tidak semua pelajaran atau materi, sudah di mengerti oleh anak-anak. Jadi ya kami yang belajar dalu, baru diterangkan kepada anak, itupun harus pake atau ditambai ngomel-ngomel sama anak,” katanya dengan nada kesal.

Dia juga mengakui, tidak semua anak sama karakternya, ada yang cepat mengerti dengan soal ada yang lambat. Sementara anaknya bisa mengerti namun malas dan harus dengan pengawasan sambil ngomel.

Untuk itu dirinya sangat mendukung adanya wacana Pembelajaran Tatap Muka (PTM), meski dengan cara dibatasi atau bergilir. Hal tersebut dapat membuat anak belajar secara serius, karena ada guru dan teman untuk belajar. Harapannya semoga pandemi Covid-19 Virus Corona segera hilang dan anak-anak kembali bersekolah secara normal. (herman afrigal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *