banner 728x250

Gandeng Ahli Konservasi Thailand, Gajah Way Kambas Dipersiapkan Hidup Tanpa Rantai dan Gancu

banner 468x60

LAMPUNG —Beritaphoto.id
Pengelolaan gajah di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Taman Nasional Way Kambas, Lampung, mulai diarahkan pada pola perawatan yang memungkinkan satwa tersebut bergerak lebih bebas tanpa rantai dan gancu.

Upaya itu mendapat pendampingan langsung dari tim Elephant Nature Park (ENP) di Chiang Mai, Thailand. Tim tersebut datang untuk berbagi pengalaman mengenai pengelolaan gajah dengan pendekatan yang lebih memperhatikan kesejahteraan satwa.

Example 300x600

Founder and Director ENP Thailand, Saengduean “Lek” Chailert, mengatakan, timnya datang berlima ke Way Kambas untuk membantu melatih gajah agar dapat kembali hidup berkelompok dan secara bertahap dilepaskan dari rantai.

“Kami datang untuk melatih gajah agar menjadi kawanan, melepaskan gajah dari rantai dan membiarkan mereka menjadi keluarga lagi,” kata Lek saat ditemui di Taman Nasional Way Kambas, Kamis (1/10/2026).

Menurut Lek, kondisi pengelolaan gajah di Way Kambas masih berbeda dengan pola yang diterapkan di ENP. Di tempatnya, gajah telah dikelola dengan pola yang memungkinkan mereka bergerak bebas.

“Di sini mereka masih menggunakan rantai, masih menggunakan hook, dan itu perlu dilepaskan,” ujarnya.

Lek juga menyoroti kondisi anak-anak gajah yang menurut pengamatannya membutuhkan perhatian lebih terhadap asupan makanan dan nutrisi.

“Anak-anak gajah di sini cukup kurus. Mereka membutuhkan lebih banyak nutrisi dan makanan,” katanya.

Lek menambahkan bahwa pendampingan tidak hanya menyasar gajah, tetapi juga para mahout yang sehari-hari merawat dan menangani satwa tersebut. Sebelum datang ke Way Kambas, sejumlah mahout dari Indonesia telah mengikuti pelatihan di proyek ENP di Thailand.

“Mereka sudah menerima pelatihan di proyek kami di Thailand dan memahami konsep bagaimana merawat gajah,” ujarnya.

ENP juga mengirimkan seorang manajer mahout untuk tinggal dan bekerja bersama tim di Way Kambas. Pendampingan tersebut akan dilakukan sampai pengelolaan gajah dapat diarahkan menuju kondisi di mana satwa bisa bergerak lebih bebas.

Sementara itu, Direktur Perencanaan Konservasi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan RI, Dr. Ahmad Munawir, mengatakan kehadiran tim ENP menjadi kesempatan bagi pengelola gajah Way Kambas untuk mendapatkan pengalaman langsung dari Thailand.

“Kita di sini bersama tim dari Elephant Nature Park di Chiang Mai, Thailand. Beliau di sini membantu mahout kita bagaimana mengelola gajah yang lebih welfare, memperhatikan kesejahteraannya tanpa menggunakan rantai dan hook. Saat ini sudah hari ketiga mereka di sini. Beberapa tim mungkin beberapa minggu ke depan masih akan standby di sini bersama mahout kita untuk melakukan pelatihan,” kata Ahmad.

Ia menambahkan, PKG Way Kambas juga memiliki sedikitnya dua dokter hewan yang bersiaga untuk mendukung penanganan dan pemantauan kondisi gajah. Ahmad berharap proses pendampingan tersebut dapat mempercepat kesiapan gajah-gajah di Way Kambas untuk menjalani pola pengelolaan yang memungkinkan mereka hidup dan bergerak lebih bebas.

“Mudah-mudahan dalam satu minggu ke depan gajah-gajah kita sudah siap untuk hidup bebas seperti yang kita bayangkan,” ujar Ahmad.

Kehadiran tim ahli asal Thailand serta percepatan penataan sarana fisik di kawasan konservasi ini mendapat apresiasi langsung dari tim gabungan pengamanan dan mitigasi.

Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di Taman Nasional Way Kambas, Brigjen TNI Sriyanto, menyambut positif kolaborasi internasional yang dihadirkan oleh tim ENP.

“Kedatangan tim Elephant Nature Park dari Thailand ini menjadi momentum yang sangat baik untuk mentransfer ilmu dan pengalaman nyata dalam merawat gajah dengan standar kesejahteraan satwa modern,” ujar Sriyanto.

Menurut Sriyanto, pendampingan dari tim ENP ini sangat krusial agar para mahout di Way Kambas semakin terlatih dan terbiasa menangani perilaku satwa secara humanis tanpa paksaan fisik.

“Pelatihan dari tim ENP ini memberikan pemahaman baru bagi para perawat gajah kita, sehingga proses melepaskan gajah dari belenggu rantai dan gancu dapat berjalan aman serta terukur,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Sriyanto menegaskan bahwa peralihan metode perawatan tersebut wajib diimbangi dengan percepatan pembangunan infrastruktur penunjang di area PKG.

“Peralihan menuju metode tanpa rantai dan gancu ini tentu harus diimbangi dengan kesiapan infrastruktur di lapangan,” kata Sriyanto.

Ia menjelaskan, saat ini pembangunan fisik terus dipacu guna menghadirkan lingkungan yang representatif bagi satwa maupun petugas.

“Karena itu, pembangunan dan perbaikan fasilitas di PKG Way Kambas saat ini tengah kami dorong serta percepat, mulai dari penyiapan paddock terbuka yang aman, fasilitas pakan bernutrisi, hingga area perawatan medis yang memadai,” imbuhnya.

Sriyanto memastikan seluruh tahapan penataan sarana tersebut akan terus dikawal agar visi konservasi yang berpihak pada kesejahteraan gajah dapat terealisasi secara berkelanjutan.

“Seluruh kegiatan pembenahan sarana ini kami kawal agar tercipta ekosistem yang benar-benar menjamin keselamatan satwa maupun petugas yang mendampinginya,” pungkas Sriyanto.(*)

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *